Pilih mana? Yang kiri atau yang kanan? Keduanya sama-sama wortel. Dibeli dari tukang sayur langganan yang tiap pagi lewat depan rumah. Bedanya, yang kiri adalah wortel impor dan yang kanan wortel lokal. Mungkin wortel impor itu didatangkan dari Australia atau Thailand yang sejak tahun 2007 menyusul Cina memasuki Jakarta sehingga sempat membuat khawatir petani Cianjur yang banyak memasok sayuran ke ibu kota. Betapa tidak, wortel impor itu jauh lebih gemuk dan bersih, warnanya lebih cerah, banyak mengandung air dan rasanya juga lebih manis. Cocok untuk jus.
“Tapi kalau untuk sayur, banyak yang lebih suka wortel lokal karena tidak mudah lembek,” kata si mas tukang sayur yang berasal dari Purwokerto.
Soal harga, jelas lebih tinggi, karena ongkos kirimnya juga lebih mahal. Tapi bedanya tak begitu banyak. Satu kantong plastik wortel impor seberat ½ kg dihargai Rp 4.000, sedangkan wortel lokal Rp 3.000, naik Rp 500 dari harga sebelum lebaran.
“Kalau beli dua kantong yang impor ini boleh Rp 7.500,” kata tukang sayur. “Ngambilnya dari pasar Rp 7.000 sekilo. Saya cuma ambil untung Rp 500 nih,” katanya.
Barang dagangannya memang tergolong murah. Selain wortel, hari itu aku juga membeli sekilo apel lokal (yang bentuknya kecil-kecil tapi cukup manis), sekilo tomat, setengah kilo kacang tanah, jagung manis, pete, tempe dan sawi seperti yang tampak di gambar. Semua itu hanya Rp 30.000.
Hari minggu kemarin (7 Desember 2008) aku ke Carrefour di Bintaro. Di hypermarket yang dulunya adalah Alfa ini kulihat wortel impor diobral dari harga Rp 750 menjadi Rp 540 per 100 gram. Kebanyakan wortelnya sudah tidak segar, jadi harus teliti memilih untuk mendapatkan yang masih baik.
Tidak jauh dari situ, terdapat wortel lokal.
Herannya, wortel lokal yang agak besar harganya Rp 9.000 -an per kg, sedangkan yang kurus harganya Rp 7.000-an. Jauh lebih mahal dari wortel impor. Kok bisa, ya?
dari:www.ayomari.blogspot.com/